Sekilas Sejarah Pulau Morotai

morotai islandMorotai island atau pulau morotai ialah merupakan pulau kecil yang berlokasi di Halmahera Utara. Sebagian besar dari pulau ini masih tertutup dengan hutan lebat. Pulau ini pun menyimpan sebuah dataran Doroeba yang terletak di barat daya Pulau Morotai yang merupakan dataran terbesar dari dataran-dataran rendah yang ada di pulau tersebut. Pulai Morotai sendiri dihuni oleh sekitar 9.000 penduduk sebelum perang pecah serta masih belum dikembangkan secara komersial. Dan juga, pulau yang satu ini pun ialah bagian dari Hindia Belanda yang juga diperintah Belanda lewat Kesultanan Ternate. Sekitar pertengahan abad ke-16, pulau yang satu ini kemudian menjadi tempat misi bagi Yesuit Portugis. Lalu Kesultanan Muslim Ternate serta Halmahera pun merasa tersinggung dengan adanya pelopor aktivitas penyebaran agama tersebut dan terus berusaha untuk mencegah misi tersebut dari pulau Morotai tahun 1571, akibatnya ialah Portugis hengkang dari tempat tersebut.

Selanjutnya di abad ke-17, Ternate memakai kekuasaannya atas Morotai dengan memerintahkan berulang kali pada seluruh penduduknya agar dapat pindah dari pulau tersebut. Kemudian pada awal abad tersebut para penduduknya pun pindah ke Dodinga, Dodinga sendiri merupakan sebuah kota kecil yang berlokasi di titik strategis pesisir barat dari pulai Halmahera. Kemudian pada tahun 1627 dan 1628, Sultan Hamzah dari Ternate pun kemudian memerintahkan atas pindahnya penduduk Kristen ke Malayu, Ternate, hal tersebut dilakukan agar lebih mudah untuk dikendalikan. Pulau Morotai kemudian menjadi sebuah lapangan terbang untuk Jepang selama masa Perang Dunia II. Pulau ini kemudian diambil alih oleh angkatan Amerika Serikat sekitar September 1944 serta digunakan sebagai sebuah tempat landasan dari serangan Sekutu ke Filipina di tahun 1945 kemudian ke Borneo timur pada Mei serta Juni tahun tersebut. Pulai Morotai sendiri merupakan basis untuk serangan ke Jawa yang dilakukan pada bulan Oktober 1945 yang kemudian ditunda setelah terjadinya penyerahan diri Jepang di bulan Agustus.

Pulau Morotai ini sebagian besar daerahnya berupa hutan dan para penduduknya memproduksi kayu dan juga damar, pulau ini pun sangat strategis sebagai tempat jalur perdagangan di daerah bagian timur Indonesia. Dan juga, Pulau Morotai ini mempunyai berbagai macam kekayaan alam seperti Biji besi, Emas, dan lainnya. Pulai ini pun memiliki potensi wisata bahari yang sangat mempesona. Menurut para penduduk di pulau ini, nama Morotai berasal dari kata Morotia yang berarti tempat tinggal orang-orang moro. Orang moro ialah sekelompok manusia yang misterius atau orang hilang yang sulit dilihat secara langsung atau dengan mata biasa, tapi mempunyai kebudayaan sebagai kelompok manusia biasa. Masyarakat yang tinggal di Kabupaten Pulau Morotai ini mempunyai kehidupan yang cenderung berkelompok, meskipun satu dengan lainnya memiliki perbedaan keyakinan.

Namun kegotongroyongan, serta saling menghargai perbedaan keyakinan tersebut menjadi salah satu ciri khas yang ada di masyarakat Kabupaten Pulau Morotai ini. Sebagai sebuah pulau yang lepas dari pulau besar Halmahera, Pulau Morotai ini tidak mempunyai penduduk asli yang menetap di tempat tersebut secara turun temurun. Penduduk yang ada di pulau tersebut saat ini yang menetap serta beranak-pinak di Pulau Morotai ialah berasal dari Suku Tobelo serta Suku Galela dari Pulau Halmahera. Kedua suku tersebut sangat mendominasi mayoritas penduduk yang ada di Pulau Morotai hingga saat ini. Migrasi yang dilakukan penduduk dari kedua suku tersebut kebanyakan dikarenakan bencana alam yakni meletusnya gunung berapi yang ada di pulau tersebut.